Rabu, 30 Maret 2011

MAU MEMIMPIN,ENGGAN DIPIMPIN

Carut marut tanah air ini
seakan enggan menunjukkan
untuk menjadi negara yang tangguh.

Hingar bingar setiap kasus
membuat tanah air ini
terlihat semakin tak terurus.

Kusut, itulah yang pantas untuk
julukan tanah air yang sedang
jatuh terpuruk. Bagai benang terulur
yang berserakan, Sang Pemintalpun
sudah enggan merajut lagi dengannya.

Keadaan ini, sontak membuat
para dedemit politik melihat celah
untuk bisa masuk kedalam lubang jarum
yang sebenarnya terlihat sempit.

Sang Pemimpin dijadikan objek utama
yang dihubungkan dalam setiap potongan
benang kusut, ruwet tak bersahabat.

Para dedemit politikpun bergeming
dihadapan manusia yang sejatinya
memiliki otak yang masih normal.

Mereka berteriak lantang,
untuk apa memimpin jika tak becus,
seperti mercon tak mampu ledakkan petasan.

Tidak satu,dua, atau tiga dari mereka.
Banyak. Mereka merasa lebih pantas
untuk posisi nomor satu di tanah air ini.

Heeh..(sinis)
Ingin menjadi pemimpin??
Lihat saja cara yang digunakan,
menjatuhkan lawan demi sebuah jabatan.
Merasa sangat mampu, namun belum tentu.
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya kaya?
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya bersahaja?
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya makmur?

Pantas saja tanah air ini semakin kusut.
Para calon pemimpin, ambisius untuk memimpin,
namun, enggan untuk dipimpin.
Siapkah sebenarnya mereka memimpin?
Sudikah mereka dipimpin?

Bukankah layaknya seorang pemimipin itu
SIAP MEMIMPIN dengan penuh totalitas,
mendengarkan opini sesama, bermusyawarah
pecahkan masalah, dan sanggup terima kritikan.
SIAP DIPIMPIN jika menerima kekalahan
secara kualitas maupun kuantitas. Ikhlas dipimpin
oleh dia yang dinilai lebih pantas.

Hemmh...
Inilah cermin tanah air kita saat ini.
MAU MEMIMPIN, tapi ENGGAN DIPIMPIN.
Semoga suatu saat bisa menjadi
SIAP MEMIMPIN dan SIAP DIPIMPIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar