Tampilkan postingan dengan label POLITIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIC. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

SURATKU UNTUK PAK FOKE

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat,

Bapak Fauzi Bowo


Dengan hormat,

Semoga dengan datangnya surat ini bapak beserta keluarga senantiasa dalam buaian kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang ke-484. Harapan saya sebagai warga Jakarta adalah agar kota tempat saya lahir ini menjadi kota yang selalu dirindui kenyamannnya, keamanannya, dan kelestariannya. Amin.

Pak, saya mau bercerita terlebih dahulu sebelum saya menyampaikan beberapa hal.

Dulu, semasa kecil, saya dan kawan-kawan masih bisa menikmati sejuknya udara karena dikelilingi rimbunnya pepohonan nan hijau, indahnya memandang sawah dengan padi yang menguning walaupun dengan hamparan yang tidak begitu luas, dan senangnya kami bermain dan berenang di sungai sebelah sawah yang airnya jernih mengalir cukup deras. Kini, itu semua hanya ada dalam bayang-bayang dan kenangan kami yang indah dan bersyukur bahwa dulu kami masih bisa menikmati apa yang Tuhan telah berikan. Indah bukan,          Pak? Mungkin itu saja deh cerita saya walaupun ingin banyak bercerita tentang yang dulu pernah saya rasakan. Hehe

Nah, sekarang saya ingin menyampaikan beberapa hal. Begini Pak. Bukankah setiap manusia yang berulang tahun itu mengharapkan kehidupan selanjutnya bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya? Dan tidak sedikit pula mereka yang bertambah umurnya semakin bertambah pulalah kesuksesannya, contohnya saja, Bapak sendiri. Iya toh? Hehe Akan tetapi mengapa untuk kota kita tercinta ini justru itu tidak berlaku ya Pak?


MACET. Inilah yang mungkin sudah menjadi brand untuk kota Jakarta. Malah, boleh dibilang macet itu hampir sama dengan jadwal makan kita yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam. Setiap pagi, keitka saya berangkat kerja, saya menikmati indahnya jalan yang sudah dipenuhi kendaraan roda empat ataupun roda dua. Sampai – sampai kapan berakhirnya macet itu tidak bisa diprediksi. Macet itu akan berlangsung 1 jamkah, 2 jamkah, 3 jamkah atau mungkin lebih dari itu. Cukup parah ya Pak? Bapak mungkin sudah mencicipi bagaimana nikmatnya kemacetan yang saya alami. Tapi, saat ini mungkin Bapak sudah tidak lagi merasakan hal itu. Kalau Bapak melewati jalan – jalan protokol, pasti beberapa waktu sebelum Bapak lewat jalan harus sudah steril terlebih dahulu. Betul tidak, Pak? Padahal, sayang loh Pak kalau tidak bisa menikmati sarapan pagi yang rutin “itu” bersama kami, masyarakat biasa. Lalu, ketika saya pulang disore haripun macet saya rasakan lagi. Hmmmmfh, bagaimana ya, Pak. Di kantor kerjaan sudah cukup banyak dan menyita beberapa energi. Otak saya sudah cukup lelah begitu pula dengan tubuh saya. Terkadang, ketika saya pulang dimalam haripun saya masih bisa merasakan santapan macet malam hari. Kalau Bapak mungkin sudah beristirahat dan bercumbu mesra dengan keluarga. Waaah, enaknya. Jadi mau. Sepertinya benar apa yang saya utarakan di atas tadi ya, Pak. Macet ternyata sudah seperti jadwal kita makan. Walaupun tidak enak, tapi mau bagaimana lagi harus dinikmati. Tapi, bukan berarti tidak diselesaikan macetnya loh, Pak. Hehe.

BANJIR. Ini dia. Mungkin bisa disebut sebagai acara rutin tahunan apalagi untuk saudara saya yang berada di sebelah Kalibata itu loh Pak. Tahu kan? (Pasti tahu lah. Nyang punya Jakarta geto loh). Beberapa tahun lalu, sayapun pernah merasakan banjir. Ternyata banjir itu bikin ribet loh Pak. Bagaimana tidak. Kita harus menyelamatkan barang-barang penting kita ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh air banjir tersebut. Setelah banjirpun, masih ada aktifitas lagi yaitu, membersihkan sisa – sia kotoran banjir dan itu tidak cukup 1 atau 2 hari loh Pak. Bapak pernah merasakan itu gak ya? Oiya, katanya waktu itu akan dibangun kanal barat dan kanal timur. Proyek itu kapan selesainya ya Pak? Itu program bagus loh. Semoga cepat selesai ya Pak.

KEMISKINAN. Akut. Mungkin itulah yang bisa saya katakana untuk hal yang satu ini. Padahal, tidak sedikit orang kaya di Jakarta (termasuk Bapak). Tapi, mengapa sepertinya yang miskin justru lebih banyak? Apakah orang yang kaya itu sudah enggan untuk menyantuni yang miskin? Menurut Bapak sesulit apa sih menanggulangi kemiskinan di Jakarta. Harusnya kita malu. Di Ibu Kota kok masih banyak sekali yang miskin ya? Untuk masalah yang satu ini tolong agak serius ya Pak. Tapi, bukan berarti untuk masalah yang lain tidak seirus loh Pak. Karena, sumber kejahatan dan kriminal itu berawal dari kemiskinan. Iiiiiih, serem.

POPULASI. Semakin hari semakin bertambah. Itulah populasi yang ada di Jakartaku tercinta. Dulu, saya pernah mendengar program KB (Keluarga Berencana), akan tetapi sekarang kok tidak pernah terngiang di telinga saya? Apakah saya yang kurang informasih? (mudah-mudahan iya). Lalu, bagaimana tuh Pak penanggulangannya? Kan tidak lucu kalau nanti tahun 2000-sekian Ibu Kota Negara Indonesia tenggelam entah kemana. Apa kata sejarah?

GREEN SPACE. Sulit sekarang mencari ladang / halaman hijau nan rimbun yang disesaki dengan pepohanan dan kicauan burung yang merdu. Anak – anak berlarian di taman dengan senyum mereka yang merona, orang – orang beristirahat dan mungkin bercerita dan bercengkrama denga senyum bahagia, dan burung – burungpun berkicau melantunkan lagu indah walaupun sulit untuk dimengerti. Ada ladang hijau, namun tidak seberapa banyak bila dibandingkan dengan polusi yang ada di Jakarta. Yang ada justru penebangan area hijau disebuah kawasan Jakarta alih – alih untuk mengurangi kemacetan yang lebih tepatnya lagi adalah untuk membangun jalur Bus Way. Kalau sekarang saja sudah sulit mencari ladang hijau, mengapa yang ada harus ditebangi Pak? Dan yang saya tahu, pohon – pohon yang akan ditebang itu lebih dari 1000 pohon. Hhmm. Kecewa berat.

Saya yakin masih banyak lagi warga – warga pecinta Jakarta yang ingin menyampaikan pesan kepada Bapak selaku gubernur kita. Namun, sebelumnya ijinkan saya menyampaikan puisi juga untuk Bapak. Semoga ini berkenan.

AKU RINDU JAKARTAKU

Wahai Bapak yang berhati nurani.

Kicau tak lagi sering terdengar seiring
Jakarta tak lagi hijau seperti dulu.
Air jernih tempatku berenang malah
menjadi tempat limbah merambah.
Udara sejuk tak lagi bisa ku hirup
seiring larutnya asap kendaraan yang
menyesaki ruang langit tebal seperti kabut.

Aku harus harus bersahabat dengan
kepadatan yang sudah hiruk-pikuk.
Kendaraan begitu padat merayap bak
bak semut yang berjalan hanya pada satu tapak.

Kemiskinan sepertinya memang sudah
menjadi menjadi sehabat yang sangat
teramat begitu akrab. Pedih, sedih, dan
perih hati karena sering menjerit kala melihat
mereka yang mengais rejeki walau hanya dengan
pakaian lusuh, karung kusut, pengait berkarat,
dan telanjang kaki menyusuri sudut – sudut kota
di bawah teriknya matahari siang hari.

Wahai Bapak yang berhati nurani.

Aku rindu akan kenangan masa laluku
yang ketika ku tebangun dari tidur,
kicauan burung yang menyambut pagiku.

Aku rindu air sungaiku yang jernih seperti
dulu, kalaku bermain menceburkan diri
bersama teman – temanku agar adik – adikku
yang hidup saat ini bisa merasa apa yang ku rasa.

Aku rindu udara sejuk yang ku hirup
kala ku berjalan pagi ditengah kota
bersama sahabat ataupun keluarga.

Tak ingin lagi hati teriris melihat mereka
yang berburu rejeki namun mengorbankan
diri kare demi menghidupi keluarga yang disayangi.

Wahai Bapakku yang berhati nurani.

Kembalikan Jakartaku seperti dulu.
Harapanku ada padamu.

Aku rindu Jakartaku.

Aku rindu Jakartaku.

Cukup sekian dari saya dan terimakasih. Walaupun mungkin Bapak tidak membacanya karena kesibukan yang sangat padat, saya harap ada orang terdekat Bapak yang sudi membaca surat ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hormat saya,

Darmawan Sukardi

Selasa, 12 April 2011

SI ZUKI DARI "RUMAH RAKYAT"

Zuki...Zuki...

Kamu itu pintar loh Zuk, tapi kok terlihat tidak seperti itu ya?
Jasmu yang halus itu sinkron dengan celanamu yang halus itu,
Warna dasimu yang eyecatching itu terlihat pas dengan jasmu,
Sepatu pantopel dengan warna kaos kaki yang sama itu
terlihat sangat selaras dengan setelan jas dan dasimu itu,
ditambah lagi dengan kelimis rambutmu dan yang terpenting lagi
kacamatamu itu loh yang membuat kamu terlihat, woow, keren!!!

Emh...emh...emh...
Zuki...Zuki...

Kamu itu kepala rumah tanggal wakil rakyat, bukan?
Kamu itu punya amanat besar loh, Zuk. Kamu sadar gak sih?
Kamu lihat gak disekeliling "rumah rakyat" itu banyak loh
bedeng - bedeng, rumah - rumah, dan sekolah - sekolah yang
sebenarnya lebih penting untuk dibangun dari pada proyek
tender untuk membangun "rumah baru" untuk tempat berkumpulnya
politikus yang mungkin kalau dipenggal suku katanya jadi dua yaitu,
POLI dan TIKUS. Kamu tahukan artinya itu apa? Ya, benar sekali. Itu artinya
POLI = BANYAK dan TIKUS = HEWAN YANG SUKA SEMBUNYI - SEMBUNYI.
Jadi, apakah kamu rela jika politikus itu kamu sediakan "rumah baru" yang bagus?
Mereka itu tinggal di tempat yang jorok saja betah loh, apalagi dikasih yang bagus.
Bisa gak mau kemana - mana. Nanti, malah tambah males kerja lagi. hehe

Zuki...Zuki...

Uang sekitar Rp 1.3 triliun itu tidak sedikit loh, Zuk. Itu fantastis.
Uang sebanyak itu hanya untuk membangun "rumah rakyat"
yang 36 lantai dan akan dihuni oleh BANYAK TIKUS.
Aduuuh...sayang sekali itu Zuk. Kamu tahu gak, Zuk.
Uang sebanyak itu bisa membangun 32.000 sekolah loh.
Kan lebih baik begitu. Dan itu kan tertera dalam UUD '45 
yang berbunyi "MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA" .
Nah, jadi lebih baik uang itu untuk membangun sekolah saja lah, Zuk.
Atau boleh juga untuk membangun infrastruktur bagi tempat - tempat
yang tertinggal.

Zuki...Zuki...

Sebaiknya jangan kamu teruskan lagi ya proyek itu dari pada nanti
banyak yang sakit hati. Toh, kinerja mereka yang tinggal di sana kan
belum bagus malah ada yang bilang kinerja mereka BURUK.
Bahaya loh Zuk kalau kamu terusin proyek "rumah rakyat" yang baru itu.
Kemungkinan besar kamu akan mendapat dampak buruk dari itu semua.
Mendingan kamu cancel saja laah. Yaa. Sampaikan sama teman - teman
kamu yang tinggal di rumah kami itu bahwa "RUMAH RAKYAT" yang baru
itu TIDAK SEHARUSNYA DIBANGUN UNTUK PARA TIKUS yang NAKAL.
Mengertilah. Karena hanya dengan pengertianlah kita akan BERSATU.

Begitu dulu ya, Zuk. ^_^

Kamis, 31 Maret 2011

IDEALISME APA?!

Dahsyat kau tampar umat ini dengan ideologimu..
Halus selembut sutra permainanmu..
Kau selipkan ajaranmu pada suatu yang tak kami sadari..
Semua LOGIS yang kau ajarkan..
Hingga beberapa dari kami melepaskan selimut IMANnya..
Dengan MATERI dan KETENARAN yang kau berikan diantaranya..
HEBAT..tapi BUSUK..
INGAT..masih BANYAK kafilah yang akan tetap BERDIRI TEGAK..

FENOMENA HIDUP

Si Pintar semakin PINTAR membodohi si Bodoh.
Si Bodoh semakin BODOH karena ulah si Pintar.

Si Salah terlihat semakin BANGGA dengan kesalahannya.
Si Salah MAHIR membujuk Si Benar untuk SALAH.
Si Benar TERHASUT untuk ikut SALAH.

Si Dusta PANDAI bersilat lidah.
Si Jujur terus dibujuk ikut Si Dusta.
Si Jujurpun TERBUAI ajakan Si Dusta.

Kuatkan Iman kami Tuhan. Amin

Rabu, 30 Maret 2011

DEMOKRASI

Demokrasi tak lagi indah didengar,
demokrasi seharusnya menerima
segala aspirasi kelapangan diri.

Bukankah demokrasi seharusnya
dilakukan demi kesejahteraan negri?
Bukankah demokrasi seharusnya
menghasilkan harmonisasi?

Pesta demokrasi harus melihat
sisi hak asasi bahkan mata hati.
Pesta demokrasi tidak harus
bersanding dengan pesta ANARKI.

Senin, 08 November 2010

PANGGUNG POLITIKA

Kita adalah PENONTON dari pertunjukan DRAMA POLITIK. 

Para AKTOR bebas memainkan perannya.

Namun,kita sebagai PENONTON sulit untuk menyaksikan pertunjukan drama tersebut. 

Sulit MENILAI para AKTOR,KUALITAS drama,bahkan sulit mengetahui siapa SUTRADARA dan PRODUSER dari pertunjukan DRAMA POLITIK tersebut.

Apa yang menyebabkan kita sulit menilai semuanya?
JARAK antara PANGGUNG drama dan PENONTON yang terlalu JAUH.