Rabu, 30 Maret 2011

DOA (2)

Tuhan...

Kami adalah jiwa muda yang gamang, 
jiwa yang dahaga akan kasih sayang,
jiwa yang haus kedamaian hati.

Tuhan...

Amarah kami seringkali menggebu,
egoisme kami bahkan sering memuncak.
Bukankah kami seharusnya sabar?

Tuhan...


Oh, betapa kami butuh bimbingan agar,
dahaga kasih sayang kami hilang,
amarah kamipunterbendung.
Tuntun kami ya Tuhan.

TEMPATMU YANG KU TUJU

Aku berjalan pada ladang
menuju jalan-Nya.
Kabut tebal keburukan menyelimuti.
jarak pandang tak lagi
mampu menyibak kebenaran
yang berada di sana.

Aku hanya bermodal lilin iman,
yang apinya berpendar dengan malu,
yang tubuhnya leleh, mati menunggu waktu.

Jalanku masih panjang.
Kabut kian tebal menggulung suasana sekitar.
Tubuh lilin semakin lumer,
apinya pun tak mampu lagi bertahan.

Kau tahu aku menuju jalan-Mu.
Sudikah kiranya,
kau bekali aku dengan lilin besar,
yang apinya terus menyala menerangi sekitar
bahkan dalam hatiku.

Biarkan ku sibak
kabut tebal keburukan itu
dengan cahaya api lilin iman
yang tak lagi malu untuk bersinar.

Ketika ku sampai di tempat-Mu,
aku sangat yakin
bahwa
takkan ada lagi kabut tebal itu.
Sehingga, ku kan abadi ditempat-Mu.

MAU MEMIMPIN,ENGGAN DIPIMPIN

Carut marut tanah air ini
seakan enggan menunjukkan
untuk menjadi negara yang tangguh.

Hingar bingar setiap kasus
membuat tanah air ini
terlihat semakin tak terurus.

Kusut, itulah yang pantas untuk
julukan tanah air yang sedang
jatuh terpuruk. Bagai benang terulur
yang berserakan, Sang Pemintalpun
sudah enggan merajut lagi dengannya.

Keadaan ini, sontak membuat
para dedemit politik melihat celah
untuk bisa masuk kedalam lubang jarum
yang sebenarnya terlihat sempit.

Sang Pemimpin dijadikan objek utama
yang dihubungkan dalam setiap potongan
benang kusut, ruwet tak bersahabat.

Para dedemit politikpun bergeming
dihadapan manusia yang sejatinya
memiliki otak yang masih normal.

Mereka berteriak lantang,
untuk apa memimpin jika tak becus,
seperti mercon tak mampu ledakkan petasan.

Tidak satu,dua, atau tiga dari mereka.
Banyak. Mereka merasa lebih pantas
untuk posisi nomor satu di tanah air ini.

Heeh..(sinis)
Ingin menjadi pemimpin??
Lihat saja cara yang digunakan,
menjatuhkan lawan demi sebuah jabatan.
Merasa sangat mampu, namun belum tentu.
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya kaya?
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya bersahaja?
Itukah cermin pemimpin bangsa yang katanya makmur?

Pantas saja tanah air ini semakin kusut.
Para calon pemimpin, ambisius untuk memimpin,
namun, enggan untuk dipimpin.
Siapkah sebenarnya mereka memimpin?
Sudikah mereka dipimpin?

Bukankah layaknya seorang pemimipin itu
SIAP MEMIMPIN dengan penuh totalitas,
mendengarkan opini sesama, bermusyawarah
pecahkan masalah, dan sanggup terima kritikan.
SIAP DIPIMPIN jika menerima kekalahan
secara kualitas maupun kuantitas. Ikhlas dipimpin
oleh dia yang dinilai lebih pantas.

Hemmh...
Inilah cermin tanah air kita saat ini.
MAU MEMIMPIN, tapi ENGGAN DIPIMPIN.
Semoga suatu saat bisa menjadi
SIAP MEMIMPIN dan SIAP DIPIMPIN.

KASIHMU, AKU

Ya Rab..

Maafkan aku yang menaruh kitab-Mu
di tempat yang rapih namun
hanya sesekali aku membacanya
apalagi mengkaji kandungannya.

Berfikir bahwa lembaran-lembaran
tertulis saat ini telah menyilaukan
mataku dan seakan-akan menutup
mataku dengan lembaran-lembaran  itu
sampai aku lupa bahwa kitab-Mulah
tuntuan ku  yang sebenarnya.

Ya Rab..

Maafkan aku yang masih silau
dengan gemerlap indahnya
sajian surga duniawi yang 
pada akhirnya membuatku
terpaku dan seakan berpaling
dari surga-Mu yang hakiki.

Padahal, aku tahu bahwa 
surga yang Kau janjikan 
adalah yang ku dambakan
sebagai rumah terakhirku.

Aku tahu bahwa aku harus 
menyicil untuk rumahku yang 
akan ku bangun disurga nanti
dengan kebajikan-kebajikan
di rumahku sementara,dunia.

Ya Rab..

Maafkan aku jika aku sering kali
mengabaikan kasih sayang-Mu dan
acapkali melayani kasih sayang
yang hanya bersifat sementara
dan seringkali menyiksa batinku.

Walau begitu, aku masih saja
selalu buta akan hal itu.
Seringkali aku buta, semakin aku
ingin mencari yang seakan-akan 
tak menyayat hatiku lagi.

Ya Rab..

Aku RINDU akan kasih sayang-Mu.
Buatlah hatiku peka akan tanda-tanda
kasih sayang yang kau berikan padaku.

Aku HAUS akan nikmat-Mu.
Permudahlah aku dalam mensyukuri
segala nikmat-Mu yang kau berikan.

Aku HARAP selalu petunjuk-Mu.
Kuatkan imanku untuk mengarungi
gemerlapnya sinar duniawi yang 
selalu menyilaukan mataku.

Ya Rab..

Kaulah Sang Maha.
Kaulah Sang Penguasa.
Kaulah Sang Raja.

Kau berhak atas diriku seutuhnya.
Ijinkan aku untuk selalu di dekat-Mu.
Agar aku selalu mersakan manja-Mu
setiap waktu ku butuhkan itu dari-Mu.

IKHLASKAN MELIHAT YANG LEBIH BAIK

Ya Rab..

Dunia fana yang kami huni ini
berisikan para khalifah yang 
beragam jenis rupa dan wujud.
Ada dia yang sedang mencoba,
ada dia yang berhasil, dan 
ada dia yang selalu gagal.

Banyak dari kami yang saat ini
sedang terus mencoba menjadi
yang berhasil baik dilingkar bumi
yang bundar maupun tujuan akhir
yang benar-benar kekal.

Banyak dari kamipun yang berhasil
dan kami tahu, mereka tidak
berhasil dengan sekejap mata
dan membalikkan telapak tangan.
Mereka lakukan itu dengan cucuran
keringat,jeripayah, dan deru cobaan.

Namun, tak sedikit pula dari kami
yang selalu gagal dalam mencoba
apalagi mencapai keberhasilan.
Apakah ini garis takdir yang telah 
kau tentukan bagi mereka yang 
selalu melulu gagal dalam pencapain?

Ya Rab..

Peganglah hati kami yang telah berhasil
dalam pencapain menuju keberhasilan.
Jagalah kami agar tidak cepat puas lalu
larut dalam kecongkakan yang memabukkan.
Jadikanlah kami orang-orang yang selalu
bersyukur akan segala pencapaian kami.

Bantu dan bimbinglah kami yang 
selalu terus mencoba mencapai 
keberhasilan yang kami inginkan
tanpa harus menafyikan segala
nikmat atau cobaan yang kau berikan.

Tabahkan kami yang selalu gagal
dalam pencapaian keberhasilan,
dan berikan kami kekuatan yang lebih
dari kekuatan yang kami miliki sebelumnya.
Kami yakin, Kau takkan memberikan cobaan
yang tak setimpal dengan kemampuan kami.

Ya Rab..

Tidak sedikit dari kami yang terkadang
iri melihat keberhasilan saudara kami.
Berbagai cara terkadang kami lakukan
untuk tidak megakui atau bahkan
menjatuhkan saudara kami yang berhasil.

Bukankah seharusnya kami ikhlas dengan
keberhasilan yang dicapainya dan
merayakan keberhasilan saudara kami
dengan menyelamatinya?

Dan bukankah lebih baik lagi jika kami
ikhlas menjadikan cara-caranya yang 
baik untuk kami jadikan sebagai jalan
kami mencapai keberhasilan kami?

Ya Rab..

Indah fenomena hidup yang Kau
sajikan dihadapan kami semua.

Ada yang kau jadikan mereka berhasil
agar yang sedang mencoba terus berusaha
dalam pencapaian keerhasilannya dan yang 
gagal supaya tidak meratapi kegagalannya 
lalu larut dalam keterputus asaan semu.

Kau jadikan beberapa dari kami berhasil adalah
sebagai alat untuk membuat dan meyakinkan
bahwa hidup yang kami jalani memang berupa
fase-fase yang membutuhkan pertumbuhan
yang pada akhirnya kami semua yakin bahwa
segala hasil yang kami dapat atas usaha kami
adalah yang terbaik buat kami.

Ya Rab..

Mengikhlaskan keberhasilan orang lain itu
indah; mendamaikan hati menyejukkan jiwa.
Lalu, ijinkanlah kami untuk ikhlas mengikuti
cara-cara mereka yang mereka yang
berhasil agar kami semua sampai pada
pencapaian kami; berhasil pada bumi-Mu yang
bundar dan akhirat-Mu yang kekal. Amin.

KITA SAUDARA

Wahai Saudaraku..

Bukankah kita bersaudara?
Bukankah saudara adalah tempat
kita berbagi kasih sayang?
Bukankah kita seharusnya saling
mengerti satu sama lain?
Bukankah kita seharusnya membangun
bukan menjatuhkan satu sama lain?
Bukankah kita seharusnya saling
mengasihi bukan saling mencaci?

Wahai Saudaraku..

Kita adalah satu kesatuan, laksana
sebuah gedung yang akan dibangun.
Jika satu komponen gedung itu
rusak atau tak berfungsi, akankah
gedung itu berdiri kokoh dan gagah?

Wahai Saudaraku..

Memang terkadang dalam persaudaraan
yang kita jalin terkadang muncul
percikan api yang akan membakar sumbu
silaturrahmi dan akhirnya meledakkan
gedung persaudaraan yang kita bangun.

Lalu, apakah itu yang sebenarnya
yang kita inginkan dan harapkan?
Kita yakin bukan itu yang kita inginkan, bukan?

Jika percikan api itu sudah mulai menyulut,
segeralah kita padamkan, agar sumbu
silaturrahmi tidak terbakar habis dan
gedung persaudaraan yang kita bangun
dapat berdiri kokoh nan anggun terlihat.
Indah bukan? Lalu apalagi yang kita tunggu?

Wahai Saudaraku..

Alangkah indahnya jika gedung persaudaraan
yang kita bangun selama ini dihuni oleh
kasih sayang, kesabaran, pengertian, 
senyum hangat, dan canda tawa.

Marilah kita mulai untuk memeluk dengan
penuh kehangatan kasih sayang,
berjabat tangan dengan penuh kepercayaan,
senyum manis dengan penuh ketulusan,
canda tawa dengan penuh keindahan, dan
tutur kata dengan penuh kelembutan.

Semoga kita dapat membangun gedung
persaudaraan yang kita rindukan dan 
kita idamkan satu satu sama lain.
Kita adalah saudara. Love You All.

TUGAS KITA DI DUNIA

Salah satu tugas kita di dunia adalah
melayani sesama dengan tulus.
Berbagi kasih salah satu cara yang
kita gunakan dalam menjalaninya.

Masih segar dalam ingatan pepatah
yang mengatakan "sebaik-baik manusia
adalah yang berguna bagi manusia
yang lainnya".

Seorang guru melayani muridnya,
seorang agamawan melayani umatnya,
seorang pegawai melayani atasannya,
seorang pengacara melayani client-nya,
seorang dokter melayani pasiennya,
seorang  customer-service melayani pembelinya,
dan masih banyak lagi yang lainnya.

So, marilah kita berusaha untuk ikhlas
mengemban tugas kita di dunia ini
untuk melayani sesama dengan tulus.

Dengan begitu, kita akan dimanjakan
dengan kehidupan yang harmonis nan
penuh kebaikan dan kasih sayang. Amin.