Senin, 27 Juni 2011

MARAH

"Wajar dong kalo gue marah. Nyebelin banget sih. Bukan sekali dua kali. Udah terlalu sering dia kaya begini."

Nah, inilah frasa yang mungkin sering terlontar dari mulut seseorang yang merasa dirinya tersakiti. Wajar memang bila seseorang marah lalu ia meluapkannya. Namun, alangkah lebih indah lagi jika marah itu diluapkan dengan cara-cara yang tidak merugikan diri kita sendiri, orang lain, dan alam sekitar kita karena umumnya manusia meluapkan amarah dengan cara yang membuat dirinya menjadi insan yang tidak baik untuk dirinya sendiri apalagi dimata orang lain.

Ada beberapa contoh gambarannya, diantaranya:

1. Marah yang dialami oleh 2 orang secara bersamaan.

Begini. Ketika ada seseorang marah lalu yang lainnya ikut marah, bisa kita bayangkan betapa buruknya keadaan saat itu. Orang pertama marah karena merasa harga dirinya terinjak-injak. Lalu, orang yang kedua merasa bahwa dia tidak bermaksud melakukan hal itu. Keduanya mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak ada yang ingin mengalah satupun karena menurut mereka demi menjaga harga diri. Bila api dibalas dengan api, maka yang akan terjadi adalah api itu menjadi semakin besar. Bukankah begitu?

2Marah yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya.

Untuk hal yang satu ini. Orang yang memarahi seseorang dilain sisi orang yang dimarahi hanya mendengarkan saja, diam tidak memberikan reaksi negatif. Orang yang marah mungkin merasa nyaman dengan marahnya karena ia merasa orang yang dimarahi menerimanya. Akan tetapi, kemarahannya tidak akan berlangsung lama karena amarah yang dibalas dengan diam (tidak ditanggapi) akan membuat kemarahan tersebut redam dengan sendirinya. Api yang disiram dengan air akan padam. Bukankah begitu?

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori )

Dalam hadis di atas, jelaslah bahwa Rasulullah SAW melarang kita untuk marah karena marah seringkali merugikan diri kita sendiri, orang lain bahkan lingkungan sekitar kita. Lalu, jikapun ingin marah, marahlah dengan santun dan indah.

Seorang motivator Indonesia, Mario Teguh-pun berpendapat bahwa perasaan marah, dendam, benci, dan ingin membalas adalah racun jiwa. Jiwa Anda yang dilahirkan suci, berpendar dengan sinar kelangitan itu akan meredup, mengkerut, lapuk, dan rontok; jika Anda membiarkan pikiran dan hati Anda tercandui olehnya. Kasihi dan selamatkanlah diri Anda, dan bergaullah dengan jiwa-jiwa baik yang meyakini hak Anda untuk menjadi pribadi yang berhasil. Jadilah jiwa yang tenang.

Jelaslah dalam pernyataan tersebut bahwa jika kita marah dengan perihal yang buruk kepada seseorang maka kita sedang mengijinkan racun hati bekerja untuk me-non-aktifkan sikap kemanusiaan kita yang seharusnya justru kita kembangkan. Jika kita sudah mengijinkan racun itu bekerja, maka lambat laun racun itu akan menempati satu ruang dalam hati kita dan akhirnya itu akan menjadi raja bagi diri kita. Bukankah kita tidak menginginka itu terjadi? Tentu tidak. Sejatinya manusia ingin melakukan kebaikan dan diperlakukan baik. Jadi, ketika amarah itu sudah mulai timbul dalam diri kita, maka berilah kuasa pada diri kita untuk meredamnya dengan cara membiarkan hati kecil kita bekerja untuk menangkal amarah itu sesegera mungkin agar kita tidak mendapat dampak kerugian dari amarah kita yang menjatuhkan kita.

Jadi, bagaimana seharusnya kita mengani amarah ketika ia sedang menggejolak dalam diri kita?

Menurut Ahma Hadi Yasin dalam bukunya yang berjudul "DAHSYATNYA SABAR" ia menyampaikan beberapa cara menghilangkan sikap emosi atau marah sebagai berikut:

1. Diam (jangan bicara)

Ketika yang ada di balik dada atau kepala kita adalah kobaran api emosi yang siap menyulut segala yang ada melalui mulut atau suara kita, atau bahkan melalui anggota tubuh yang lain, seperti mata, tangan, kaki, dan sebagainya, maka diam adalah salah satu solusi untuk meredam bahkan mematikan api emosi tersebut.

2. Memohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan setan

Tak ada yang kuat kecuali ia telah diberi kekuatan oleh Allah SWT. Tak ada yang selamt dari apapun atau siapapun melainkan ia telah diselamatkan oleh Allah SWT. Maka, pancarkanlah sinyal akal dan fikiran kita untuk bertemu dengan Zat Yang Maha Kuat, yaitu Allah SWT dan memohon agar dikuatkan oleh Allah SWT. Ketika Allah SWT berkenan memenuhi permohonan kita, pasti apa atau siapapun, termasuk setan yang paling kuat sekalipun tak akan mampu menggelincirkan kita dari jalan kebenaran, yaitu jalan yang diridhoi Allah SWT.

3. Mengubah posisi

Mengubah posisi seperti kalau saat itu kita sedang berdiri, maka duduklah. Kalau kita sedang duduk, maka kita bisa memilih, apakah mau berbaring, atau mau berdiri. Kalau kita sedang berada di dalam rumah, cobalah berjalan keluar. Artinya, kita harus melakukan langkah hijrah dari situasi kita untuk menemukan suasana baru. Karena antara fisik dan fikiran, antara raga dan jiwa senantiasa berkaitan. Kalau fisik kita disakiti, sering akan berdampak pada kejiwaan kita, seperti tidak bergairah, putus asa, atau marah.

4. Berwudhulah

Orang yang marah atau emosi , berarti ia sedang bertean dengan setan, sedangkan setan diciptakan Allah dari api. Api akan mati kalau terkena air, maka orang yang sedang emosi karena pengaruh setan, akan segera dingin dan setan akan pergi ketika tubuh kita disiram dengan air wudhu. 

5. Perbanyak dzikir

Dengan menginga-Nya kita akan lebih mudah menyelesaikan segala permasalahan yang kita miliki.

Lalu, jika dari beberapa cara tersebut kita tetap saja tidak bisa meredam marah, apa yang harus dilakukan?

Jika kita sudah melakukan hal-hal tersebut di atas namun amarah tidak kunjung redam, maka kita sedang menghamba kepada setan dan membiarkan racun-racun hati itu merajai diri kita. Bukankah kita berharap hidup kita ini lebih baik, simpel, dan nyaman? So, marilah kita coba melakukan yang terbaik untuk meredam amarah kita. Semoga kita selalu berada dalam buaian dan lindungan Allah SWT. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar