Rabu, 30 Maret 2011

TEGASKAN DIRIKU, RAB

Ya Rab...

Maaf jika diriku ini belum mampu
untuk bersikap tegas pada yang
hal yang benar yang Kau ridhoi.
Sering kali kacamata dunialah
yang acap kali aku gunakan untuk
menentukan hal yang baik bagiku.

Ya Rab...

Inilah aku, manusia yang tak kunjung
sempurna walau selalu ku kejar itu.
Akulah dia yang terkadang imannya
bertambah namun sering kali berkurang.

Ya Rab...

Deras bisikan kegelapan yang menuntunku
untuk berjalan pada trek yang membuatku
menjadi jauh dari jalan-Mu yang indah.
Dalih kasih sering kali ku depankan atas nama
hak asasi ataupun prikemanusiaan.

Ya Rab...

Kesempurnaan adalah pencapaian akhir
dalam hidupku. Namu, akupun sadar
bahwa takkan pernah sampai diriku pada
kesempurnaan yang aku idam-idamkan
karena kesempurnaan adalah milik-Mu.

Ya Rab...

Berusaha, itulah cara terbaik yang bisa
aku lakukan untuk menjadi yang lebih baik
di sisi-Mu agar aku bisa menjadi kekasih-Mu
yang selalu kau rindui keberadaannya.

Ya Rab...

Bantulah aku dalam penegasan diri ini
untuk berpihak pada apa yang Kau
ridhoi agar aku tidak keluar dari jalur
yang telah kau sediakan bagiku. Amin

TERASINGKAN KARENA BENAR

Dear friends,

Perbuatan baikmu mungkin terkadang
membuatmu terasa terasingkan dari
tempatmu saat ini berpijak. Kau mungkin
merasa berada pada dunia yang tidak
sebagaimana kamu semestinya.

Kamu mungkin merasa bahwa
mengapa orang disekitarmu
menganggapmu aneh karena
kamu melakukan hal yang baik,
tidak sebagaimana mereka melakukan.

Namun, yakinlah tentang apa
yang kau lakukan saat ini, berpijaklah
tepat pada tempatmu yang dimana
dia akan membesarkanmu nantinya.

Mereka yang saat ini menganggapmu
tidak seperti atau sepaham dengan
mereka, itu hanya karena mereka
belum "tumbuh" pada waktunya.

Lalu, dirimu yang sudah melakukan itu
kau lebih lebih dulu ditunjukkan oleh Tuhan
jalan yang memang semestinya kau lalui.

Kau mungkin dijauhi oleh orang-orang
sekitarmu. Namun, yakinlah bahwa kau
menjadi lebih dekat dengan Dia yang
mencintaimu selalu tanpa pamrih.

JERITAN HATI vs BISIKAN KEGELAPAN

Jeritan hati dan bisikan kegelapan
sering kali mengisi hari-hari dalam diri.
Keduanya selalu melulu beradu karena
sang pemilik diri tak menegaskan diri
dalam memilih suatu pilihan, baik / buruk.

Walau seringkali hati menjerit, sang pemilik
tak mendengar padahal ia sangat dekat.
Kegelapan membisik, seringkali diikuti karena
lebih menjajikan kita menikmati manisnya kehidupan.

Jangan lagi biarkan hati menjerit
cukup dengarkanlah panggilannya.
Biarkan kegelapan berteriak sampai
ia bosan meneriakkan di telinga kita.

NIKMATMU, SYUKURKU

Ya Rab...

Bagitu banyak nikmat yang
telah kau berikan padaku.
Takkan mampu ku hitung
nikmat-Mu walau dengan
alat termutakhir sekalipun.

Ya Rab...

Kau beriku nikmat melihat.
Ku dapat menikmati betapa
indahnya laut yang terbentang,
indahnya gunung yang menjulang,
betapa luasnya semesta ciptaan-Mu.
Syukurku semakin besar pada-Mu.

Walau seringkali ku ingkar
atas nikmatku, ku melihat
yang indah bagiku namun
tak begitu bagi-Mu.
Maafkan aku Ya Rab...

Ya Rab...

Kau beriku nikmat mendengar.
Ku dapat menikmati betapa
merdunya lantunan ayat-ayat-Mu,
betapa sejuknya petuah-petuah
sang agamawan, dan betapa indah
setiap kata yang keluar dari mulut
hamba-hamba-Mu.
Hatiku tergetar mendengar semua itu.

Acapkali ku langgar larangan-Mu,
aku mendengar kalimat-kalimat
yang tidak baik yang keluar dari
mulut hamba-hamba-Mu yang belum
sadar betapa indahnya bila berucap
hal-hal yang indah dan mengindahkan.

Ya Rab...

Kau berikanku nikmat perasa,
sehingga aku dapat merasakan
betapa sesungguhnya besar
kasih sayang-Mu kepadaku.
Aku dapat merasakan kasih sayang
dari orang-orang yang kucinta.
Oh...betapa indahnya nikmat ini.

Tak jarang aku menyalah gunakan
nikmat rasa yang kau berikan.
Terkadang cintaku kepada sesama
melebihi cintaku pada-Mu
Aku lemah..Maafkan aku rab..

Ya Rab...

Tak mampu lagi lidah ini mengurai kata-kata,
tak mampu mulut ini mengucap kalimat-kalimat
untuk menghitung satu persatu nikmat yang kau beri.

Namun, ada satu nikmat yang ku harap
akan selalu ada di dalam diriku ini dan
jangan pernah kau cabut dariku, yaitu
nikamt iman-Mu. Karena hanya dengan 
nikmat itulah yang akan membawaku
dalam ketentraman dan kedamain jiwa
baik di dunia fana-Mu atau akhirat-Mu.

Amin.

ANDAI KAU DI SINI, RASUL..

Ya Rasul…

Betapa agungnya kau dimata umatmu.
Betapa mulianya kau di langit dan di bumi.
Sebelum ALLAH menciptkan manusia
yang pertama, nur-mu sudah diciptakan.
Itulah yang menentukan kau adalah
kekasih ALLAH bagi seluruh umat.

Ya Rasul…

Tingginya budi pekertimu adalah
contoh bagi umatmu saat ini.
Indahnya segala jasa-jasamu,
takkan pernah terbalas oleh kami,
umat-umat setelah dirimu.
Sejuknya akhlakmu mendatangkan
jiwa kami pada kerinduan dirimu.

Ya Rasul…

Jika kau pernah berkata bahwa
umatmu akan terpecah menjadi
beberapa aliran, apakah kami
termasuk pada aliran yang selaras
dengan apa yang kau jalankan?
Apakah kami termasuk yang akan
mendapatkan syafaatmu?

Ya Rasul…

Betapa malang jiwa ini jika
tak mendapatkan syafaat darimu.
Betapa hina diri ini jika tak termasuk
dalam golongan orang-orang yang
kau pilih diakhir nanti.

Ya Rasul…

Jika saat ini banyak golongan
yang mengaku mereka adalah
golongan terbaik apakah benar
itu adanya? Mengapa mereka
bisa berkata seperti itu? Bukankah
selama pegangan kami Al-Qur’an
dan Hadits kami takkan pernah tersesat?
Bukan itu yang pernah kau katakan?
Lalu, mengapa diantara kami masih ada
Yang mengaku bahwa mereka adalah
Yang lebih baik dari yang lain, padahal
pedoman kami sama; Al-Quran dan Haidts?

Ya Rasul…

Andai kau masih berdiri tegak nan anggun,
betapa ingin diri ini menyapa dalam hangat.
Andai kau masih tetap duduk simpuh
dihadapan Tuhanmu, betapa ingin diri ini
selalu berada di sampingmu.
Andai kata petuahmu dapat kami dengar
langsung dari lidah bijakmu, takkan ada
lagi yang mangaku, aku dan kami lebih baik.

Ya Rasul…

Kami berharap agar syafatmu menyapa
kami diakhir nanti. Kami rindu akan dirimu,
kami rindu berada dibarisan umatmu tercinta,
kami rindu berada pada barisan-barisan surga.
Kaulah bulan bagi umatmu.
Kaulah matahari bagi umatmu.
Kaulah cahaya di atas cahaya.
Kaulah penerang bagi setiap
jiwa-jiwa yang rindu akan dirimu.

MARI BUKA MATA KITA

Wahai saudaraku...

Liatlah sekelilingmu, tidakkah kau kagum
dengan segala yang terbentang dihadapanmu?
Awan putih nan indah mengapung dan berjalan,
Planet-planet yang bertebaran diangkasa
bergerak pada orbitnya, tidak keluar darinya.
Matahari, bulan, dan bintang saling mengisi
tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Semua itu menunjukkan harmonisasi alam
yang takkan bisa dilakukan kecuali oleh Yang Maha.

Wahai saudaraku...

Lihatlah jauh ke dalam dirimu.
Semua tersusun dengan rapihnya.
Tak nampak namun dapat kau rasa.
sampai apapun yang mengalir dalam nadimu.
Lalu, bagaimana dengan rasa cinta dan sakit
dan semua yang dapat kau rasa, apakah 
bisa kau sentuh dengan tanganmu?
Apakah semua itu ada?

Wahai saudaraku...

Marilah kita mulai tanyakan kepada diri kita,
bukankah semua ini sudah cukup untuk
membuktikan keMahaan ALLAH SWT?
Atau apakah kita menutup mata bahkan hati
kita untuk mengacuhkan itu semua?

Wahai saudaraku...

Sudahlah...
Kita hanya harus membuka mata, hati dan pikiran kita
jika kita sudah melihat jelas segala tanda ALLAH SWT.
Kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran yang ada.
Ikhlaskanlah itu semua kita sadari dan terima agar kita
tetap selalu bersyukur dengan semua yang ada.

Wahai saudaraku...

Marilah kita bermunajat kepada ALLAH SWT,
Ya ALLAH...
Bimbinglah kami selalu ke jalan yang baik,
bawalah kami selalu pada naungan-Mu.
Jagalah kami agar selalu dekat dengan-Mu
sampai akhir hayatku. Amin.

GUA dan POLISI (4)

Lagi, berkelit dengan Pak Polisi. Kali ini dengan cerita yang sedikit berbeda.

Malam itu gua berencana untuk pergi ke rumah ncang gua. Posisi rumah gua dan mereka emang nggak terlalu jauh tapi harus nyebrang jalan raya yang cukup ramai dan lebar. Kira - kira pukul 20:00 WIB gua berangkat ke sana. Dengan kebiasaan yang kurang baik, tanpa helm, gua berangkat. Jalan raya pertama udah gua sebrangin tinggal 1 jalan raya lagi. Setelah nunggu cukup lama akhirnya gua bisa nyebrang juga.

Dengan santai gua ngendaraain motor dan tiba - tiba sosok bertubuh tegap dengan dada bidang dan seragam coklat berdiri di depan dengan gagahnya. Dengan mengayunkan tangan ke kiri, isyarat menyuruh gua untuk menepi ke jalan, akhirnya guapun ngikutin untuk menepi.

"Selamat malam, Pak." polisi itu menyapa.
"Iya, selamat malam, Pak." jawab gua dengan singkat.

"Tolong SIM dan STNK-nya ditunjukkan." lanjut polisi.
"Baik, Pak. Ini SIM dan STNK-nya." sambil membuka dompet dan mengeluarkan yang diminta polisi.

"Kenapa tidak pakai helm, Pak?" polisi bertanya.
"Iya, Pak. Maaf. Saya cuma mau pergi ke tempat yang deket kok, Pak. Jadi, saya pikir gak usah pakai helm." jawab gua.

"Bapak kan melewati jalan raya dan kawasan wajib helm. Jadi bapak harus taati dong aturan yang ada." tegur polisi itu.
"Iya, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf." dengan sedikit melas.

"Ya sudah, karena bapak melanggar, tidak pakai helm, SIM-nya saya tahan ya, Pak." kata pilisi tersebut.
"Ya sudah, Pak. Tidak apa-apa." jawab gua dengan sedikit berharap polisi berubah pikiran.

"Ya sudah. Bapak silahkan jalan." tambah polisi itu.

Setelah itu, guapun segera menghidupkan motor untuk melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian setelah gua memacu motor gua kira-kira baru 2 meter, polisi itu manggil gua.

"Pak, sini." panggil polisi itu. Guapun langsung putar arah untuk menghampiri polisi tersebut.
"Ya, ada apa, Pak?" tanya gua (bertanya-tanya kok dia panggil gua lagi, apa ada yang salah lagi ya).

"Bapak ini bagaimana, mau pergi gitu aja. SIM-nya kan masih sama saya. Memangnya bapak bisa pergi kemana-mana tanpa SIM?" tambah polisi itu.

Gua semakin bingung, kok malah dibalikin lagi SIM gua. Bukannya tadi katanya mau ditahan. Hmmmhf, yudah lah tanpa pikir panjang lagi,

"Oiya, Pak. Saya lupa." jawab gua sambil sedikit tersenyum.
"Ini. Jangan lupa lagi ya." tambah polisi itu.

Setelah itu, gua ngakak dalem hati. Sambil ngomong dalem hati,"Ini yang bego, gua apa polisinya ya, hahahahaha".
Breeeeeeeemmmmm....gua tancep gas, ngejauh dari polisi itu. SELAMEEEET. Hahahaha.

Thank you, Pak polisi. Bapak bae banget deh. Jehahaha.