ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR..
LAA ILAA HA ILLALLAH..
Adzan subuh berkumandang, ayampun bangun dari persinggahan tidurnya, diiringi dengan sahutan Ibuku memanggil.
"Didiiiiii. Bangun. Udah subuh tuh. Shalat!! Habis itu anterin Mama ke rumah Mpo Munaroh." panggil ema gua uang udah siap berangkat ke rumah sodara gua yang mau berangkat naik haji.
"Iyaa maaaah." dalam keadaan mata masih kiyep-kiyep gua ngejawab. Setelah itu gua pun bergegas untuk ambil wudlu dan shalat subuh.
Shalat subuh selesai. Gua langsung mandi dan pake baju koko sekaligus peci haji putih karena gua nanti dapet amanat untuk azan sebelum saudara gua itu melangkah keluar dari rumahnya. Motor SPIN merah cabe yang tercintapun gua panasin supaya masin tetap awet (gak nyambung ya??) hehe.
Sesampainya dirumah saudara, banyak terlihat kerumunan orang yang sudah berkumpul ramai siap mendampingin saudara gua yang mau pergi haji. Guapun masuk dalam barisan. Kebetulan gua dapet LINE yang paling depan, tepatnya sebelah kanan depan mereka yang mau pergi haji.
"ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR,...LAA ILAA HA ILLALLAH" dengan suara yang lumayan merdu gua kumandangin ajan mengiringi kepergian sodara gua yang mau pergi haji. Setelah itu, "LABBAIK..ALLAHUMMA LABBAIK..LABBAIK KALAA SYARIKALA KALA BAIK.." Lantunan itu terdengar sangat merdu dan membawa gua larut dalam khayalan untuk berangkat haji suatu saat nanti. Amin.
Akhirnya kami pun berangkat ke tempat pemberangkatan haji yang terletak tidak jauh dari rumah saudara gua. Tepatnya di daerah Kalideres. Daerah paling NGETOP di Jakarta Barat. Haahaa Tidak cukup lama kami berada di sana, akhirnya kami pun berangkat pulang setelah melepas kepergian mereka ke bandara SOETTA dan kemudian dilanjutkan ke tanah suci MEKKAH.
Setelah itu, gua pun ke parkiran untuk ngambil motor dan siap-siap untuk pulang. Gua dan ema gua udah nunggangin si Kuda Besi Cabe Merah. Breeeeeem..motor gua gas dan meninggalkan tempat tersebut. Karena gua pikir masih pagi sekitar jam 06.30 WIB, gua pilih jalan protokol karena gua yakin gak bakal ada polisi. Gua dan ema guapun gak pake helm. Firasat buruk mulai masuk ke dalam pikiran gua. Tapi gua tetap balas jalan leawat jalan protokol tersebut.
Berhubung rumah gua deket perbatasan Jak-Bar - Tangerang, mau gak mau, gua harus lewat putaran perbatasan tersebut. Taraaaaaaaam. Damn, di depan banyak banget polisi dan beberapa orang yang udah ditilang. Akhirnya polisi pun nyetop gua.
"Selamat pagi, mas!" sapa polisi dengan tegas dan mulut yang masih tertutup masker.
"Selamat pagi, pak." jawab gua dengan nada rendah karena gua sadar gua salah.
"Tolong keluarkan SIM dan STNK." permintaan yang standar diucapkan oleh para polis ketika nyetop para pelanggar (termasuk gua) hehe.
"Maaf, pak. Saya gak bawa dompet. SIM dan STNK saya ada di dompet." jawab gua dengan agak lirih.
"Kamu ini gimana, mas. Udah gak pake helm, boncengan, SIM dan STNK gak bawa. Ya udah, saya gak usah banyak tanya. Motor kamu saya tahan yah." tegas polisi tersebut.
"Maaf, pak. Saya salah. Tapi kalo boleh tau bapak ini polisi wilayah mana, yah?" dengan memberanikan diri gua coba tanya polisi tersebut dengan nada agak sedikit songong.
"Saya polisi Tangerang, mas. Memangnya kenapa" jawab polisi agak emosi.
"Maaf, pak. Bukannya polisi itu punya wilayah masing-masing ya, pak. Polisi Tangerang ya ngurus daerah Tangerang. Polisi Jakarta Barat ya ngurus wilayah Jakarta Barat. Tapi, ko bapak bisa ngurus wilayah Jakarta Barat ya? Kan bapak polisi Tangerang." jawab gua dengan nada emosi karena gua sendiri bingung ko bisa tugas yang bukan di wilayah orang.
"Mas, saya itu polisi Indonesia. Jadi, saya mau tugas di wilayah manapun. Terserah saya. Mas udah salah nyolot lagi." jawab polisi itu penuh dengan emosi.
"Bukan gitu pak. Saya cuma mau tau aja. Sebenarnya kan polisi punya wilayah masing-masing". jawab gua lagi dengan nyolot.
"Ya udah mas. Motor mas saya tahan. Nanti mas ambil aja di Pos Gudang (wilayah Tangerang)." jawab polisi sambil ngebawa motor gua.
Setelah itu, gua bingung. Gua kasihan ngeliat ema gua yang gak terbiasa dengan hal seperti ini. Ya udah, akhirnya ema gua gua suruh pulang ngangkot. Gua sendiri nelepon sodara gua yang kebtulan juga polisi. Dia anak dari saudara gua yang pergi haji tadi.
Singkat kata. Akhirnya motor gua bisa diambil. Adapun yang ngurus, saudara gua yang polisi juga.
Enak juga ya nyolot-nyolotan sama polisi.
Tunggu episode selanjutnya yaa. GUA dan POLISI (4).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar