Senin, 27 Juni 2011

ANAK JALAN (1)

Hanya dengan sebatang kayu,
dengan beberapa tutup botol
yang tertancap dengan paku.
Nada yang terdengarpun
tak merdu.

Dengan pakaian kumal dan tak
jarang tercium bau terik mentari,
berjalan tanpa alas kaki, dan
dengan nyanyian suara sumbang
dari mulutku, dengan itu semua

aku mengais rejeki.

Tak apa. Sedikit hasilnya
namun ku yakin ini lebih baik
dari pada banyak mengambil
yang bukan hakku.

(anak jalan)

IBU [2]

Ibu...

Ketika pertama kali aku bisa melihat,
yang aku lihat pertama kalipun dirimu.
Dengan senyummu yang hangat, wajahmu
yang cantik, kau buai aku dengan manja.
Oh, betapa senang hatiku ^_^

Ibu...

Ketika pertama kali aku bisa bicara,
kau ajarkan aku kata "mama", dan
akupun berusaha ikut menutur dengan
keterbatahanku, tak ragu ku sebut namamu,
"ma..ma, ma..ma, ma..ma".
Oh, indah dan lucunya saat itu ^_^

Ibu...

Ketika pertama kali aku bisa merangkak,
aku memang tidak bisa diam, merangkak
ke sana dan ke mari dan kau lihat aku
sambil tertawa ceria (mungkin aku lucu).
Dan akupun tersenyum melihat tawamu.
Oh, bahagianya aku ^_^

Ibu...

Ketika pertama kali aku bisa berjalan,
satu, dua, tiga langkah, aku terjatuh.
Kau yang berdiri di depanku lalu kau
menyongsongkan kedua tanganmu
untuk menyambutku dengan senyummu.
Dengan langkah gontai akhirnya akupun
berhasil memegang tanganmu dan kau
peluk diriku erat lalu kau tersenyum bahagia.
Oh, betapa baghagianya aku bisa berjalan ^_^

Ibu...

Semua kebisaan yang ku lakukan,
kaulah pertama kali yang ajarkanku,
kau yang menuntun sehingga aku
mulai mampu melakukan apa yang
dilakukan oleh kebanyakan orang.

Terimakasih Ibu.

LOVE YOU SO MUCH.

MARAH

"Wajar dong kalo gue marah. Nyebelin banget sih. Bukan sekali dua kali. Udah terlalu sering dia kaya begini."

Nah, inilah frasa yang mungkin sering terlontar dari mulut seseorang yang merasa dirinya tersakiti. Wajar memang bila seseorang marah lalu ia meluapkannya. Namun, alangkah lebih indah lagi jika marah itu diluapkan dengan cara-cara yang tidak merugikan diri kita sendiri, orang lain, dan alam sekitar kita karena umumnya manusia meluapkan amarah dengan cara yang membuat dirinya menjadi insan yang tidak baik untuk dirinya sendiri apalagi dimata orang lain.

Ada beberapa contoh gambarannya, diantaranya:

1. Marah yang dialami oleh 2 orang secara bersamaan.

Begini. Ketika ada seseorang marah lalu yang lainnya ikut marah, bisa kita bayangkan betapa buruknya keadaan saat itu. Orang pertama marah karena merasa harga dirinya terinjak-injak. Lalu, orang yang kedua merasa bahwa dia tidak bermaksud melakukan hal itu. Keduanya mempertahankan pendapat masing-masing dan tidak ada yang ingin mengalah satupun karena menurut mereka demi menjaga harga diri. Bila api dibalas dengan api, maka yang akan terjadi adalah api itu menjadi semakin besar. Bukankah begitu?

2Marah yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya.

Untuk hal yang satu ini. Orang yang memarahi seseorang dilain sisi orang yang dimarahi hanya mendengarkan saja, diam tidak memberikan reaksi negatif. Orang yang marah mungkin merasa nyaman dengan marahnya karena ia merasa orang yang dimarahi menerimanya. Akan tetapi, kemarahannya tidak akan berlangsung lama karena amarah yang dibalas dengan diam (tidak ditanggapi) akan membuat kemarahan tersebut redam dengan sendirinya. Api yang disiram dengan air akan padam. Bukankah begitu?

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori )

Dalam hadis di atas, jelaslah bahwa Rasulullah SAW melarang kita untuk marah karena marah seringkali merugikan diri kita sendiri, orang lain bahkan lingkungan sekitar kita. Lalu, jikapun ingin marah, marahlah dengan santun dan indah.

Seorang motivator Indonesia, Mario Teguh-pun berpendapat bahwa perasaan marah, dendam, benci, dan ingin membalas adalah racun jiwa. Jiwa Anda yang dilahirkan suci, berpendar dengan sinar kelangitan itu akan meredup, mengkerut, lapuk, dan rontok; jika Anda membiarkan pikiran dan hati Anda tercandui olehnya. Kasihi dan selamatkanlah diri Anda, dan bergaullah dengan jiwa-jiwa baik yang meyakini hak Anda untuk menjadi pribadi yang berhasil. Jadilah jiwa yang tenang.

Jelaslah dalam pernyataan tersebut bahwa jika kita marah dengan perihal yang buruk kepada seseorang maka kita sedang mengijinkan racun hati bekerja untuk me-non-aktifkan sikap kemanusiaan kita yang seharusnya justru kita kembangkan. Jika kita sudah mengijinkan racun itu bekerja, maka lambat laun racun itu akan menempati satu ruang dalam hati kita dan akhirnya itu akan menjadi raja bagi diri kita. Bukankah kita tidak menginginka itu terjadi? Tentu tidak. Sejatinya manusia ingin melakukan kebaikan dan diperlakukan baik. Jadi, ketika amarah itu sudah mulai timbul dalam diri kita, maka berilah kuasa pada diri kita untuk meredamnya dengan cara membiarkan hati kecil kita bekerja untuk menangkal amarah itu sesegera mungkin agar kita tidak mendapat dampak kerugian dari amarah kita yang menjatuhkan kita.

Jadi, bagaimana seharusnya kita mengani amarah ketika ia sedang menggejolak dalam diri kita?

Menurut Ahma Hadi Yasin dalam bukunya yang berjudul "DAHSYATNYA SABAR" ia menyampaikan beberapa cara menghilangkan sikap emosi atau marah sebagai berikut:

1. Diam (jangan bicara)

Ketika yang ada di balik dada atau kepala kita adalah kobaran api emosi yang siap menyulut segala yang ada melalui mulut atau suara kita, atau bahkan melalui anggota tubuh yang lain, seperti mata, tangan, kaki, dan sebagainya, maka diam adalah salah satu solusi untuk meredam bahkan mematikan api emosi tersebut.

2. Memohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan setan

Tak ada yang kuat kecuali ia telah diberi kekuatan oleh Allah SWT. Tak ada yang selamt dari apapun atau siapapun melainkan ia telah diselamatkan oleh Allah SWT. Maka, pancarkanlah sinyal akal dan fikiran kita untuk bertemu dengan Zat Yang Maha Kuat, yaitu Allah SWT dan memohon agar dikuatkan oleh Allah SWT. Ketika Allah SWT berkenan memenuhi permohonan kita, pasti apa atau siapapun, termasuk setan yang paling kuat sekalipun tak akan mampu menggelincirkan kita dari jalan kebenaran, yaitu jalan yang diridhoi Allah SWT.

3. Mengubah posisi

Mengubah posisi seperti kalau saat itu kita sedang berdiri, maka duduklah. Kalau kita sedang duduk, maka kita bisa memilih, apakah mau berbaring, atau mau berdiri. Kalau kita sedang berada di dalam rumah, cobalah berjalan keluar. Artinya, kita harus melakukan langkah hijrah dari situasi kita untuk menemukan suasana baru. Karena antara fisik dan fikiran, antara raga dan jiwa senantiasa berkaitan. Kalau fisik kita disakiti, sering akan berdampak pada kejiwaan kita, seperti tidak bergairah, putus asa, atau marah.

4. Berwudhulah

Orang yang marah atau emosi , berarti ia sedang bertean dengan setan, sedangkan setan diciptakan Allah dari api. Api akan mati kalau terkena air, maka orang yang sedang emosi karena pengaruh setan, akan segera dingin dan setan akan pergi ketika tubuh kita disiram dengan air wudhu. 

5. Perbanyak dzikir

Dengan menginga-Nya kita akan lebih mudah menyelesaikan segala permasalahan yang kita miliki.

Lalu, jika dari beberapa cara tersebut kita tetap saja tidak bisa meredam marah, apa yang harus dilakukan?

Jika kita sudah melakukan hal-hal tersebut di atas namun amarah tidak kunjung redam, maka kita sedang menghamba kepada setan dan membiarkan racun-racun hati itu merajai diri kita. Bukankah kita berharap hidup kita ini lebih baik, simpel, dan nyaman? So, marilah kita coba melakukan yang terbaik untuk meredam amarah kita. Semoga kita selalu berada dalam buaian dan lindungan Allah SWT. Amin.

Selasa, 21 Juni 2011

SURATKU UNTUK PAK FOKE

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat,

Bapak Fauzi Bowo


Dengan hormat,

Semoga dengan datangnya surat ini bapak beserta keluarga senantiasa dalam buaian kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang ke-484. Harapan saya sebagai warga Jakarta adalah agar kota tempat saya lahir ini menjadi kota yang selalu dirindui kenyamannnya, keamanannya, dan kelestariannya. Amin.

Pak, saya mau bercerita terlebih dahulu sebelum saya menyampaikan beberapa hal.

Dulu, semasa kecil, saya dan kawan-kawan masih bisa menikmati sejuknya udara karena dikelilingi rimbunnya pepohonan nan hijau, indahnya memandang sawah dengan padi yang menguning walaupun dengan hamparan yang tidak begitu luas, dan senangnya kami bermain dan berenang di sungai sebelah sawah yang airnya jernih mengalir cukup deras. Kini, itu semua hanya ada dalam bayang-bayang dan kenangan kami yang indah dan bersyukur bahwa dulu kami masih bisa menikmati apa yang Tuhan telah berikan. Indah bukan,          Pak? Mungkin itu saja deh cerita saya walaupun ingin banyak bercerita tentang yang dulu pernah saya rasakan. Hehe

Nah, sekarang saya ingin menyampaikan beberapa hal. Begini Pak. Bukankah setiap manusia yang berulang tahun itu mengharapkan kehidupan selanjutnya bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya? Dan tidak sedikit pula mereka yang bertambah umurnya semakin bertambah pulalah kesuksesannya, contohnya saja, Bapak sendiri. Iya toh? Hehe Akan tetapi mengapa untuk kota kita tercinta ini justru itu tidak berlaku ya Pak?


MACET. Inilah yang mungkin sudah menjadi brand untuk kota Jakarta. Malah, boleh dibilang macet itu hampir sama dengan jadwal makan kita yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam. Setiap pagi, keitka saya berangkat kerja, saya menikmati indahnya jalan yang sudah dipenuhi kendaraan roda empat ataupun roda dua. Sampai – sampai kapan berakhirnya macet itu tidak bisa diprediksi. Macet itu akan berlangsung 1 jamkah, 2 jamkah, 3 jamkah atau mungkin lebih dari itu. Cukup parah ya Pak? Bapak mungkin sudah mencicipi bagaimana nikmatnya kemacetan yang saya alami. Tapi, saat ini mungkin Bapak sudah tidak lagi merasakan hal itu. Kalau Bapak melewati jalan – jalan protokol, pasti beberapa waktu sebelum Bapak lewat jalan harus sudah steril terlebih dahulu. Betul tidak, Pak? Padahal, sayang loh Pak kalau tidak bisa menikmati sarapan pagi yang rutin “itu” bersama kami, masyarakat biasa. Lalu, ketika saya pulang disore haripun macet saya rasakan lagi. Hmmmmfh, bagaimana ya, Pak. Di kantor kerjaan sudah cukup banyak dan menyita beberapa energi. Otak saya sudah cukup lelah begitu pula dengan tubuh saya. Terkadang, ketika saya pulang dimalam haripun saya masih bisa merasakan santapan macet malam hari. Kalau Bapak mungkin sudah beristirahat dan bercumbu mesra dengan keluarga. Waaah, enaknya. Jadi mau. Sepertinya benar apa yang saya utarakan di atas tadi ya, Pak. Macet ternyata sudah seperti jadwal kita makan. Walaupun tidak enak, tapi mau bagaimana lagi harus dinikmati. Tapi, bukan berarti tidak diselesaikan macetnya loh, Pak. Hehe.

BANJIR. Ini dia. Mungkin bisa disebut sebagai acara rutin tahunan apalagi untuk saudara saya yang berada di sebelah Kalibata itu loh Pak. Tahu kan? (Pasti tahu lah. Nyang punya Jakarta geto loh). Beberapa tahun lalu, sayapun pernah merasakan banjir. Ternyata banjir itu bikin ribet loh Pak. Bagaimana tidak. Kita harus menyelamatkan barang-barang penting kita ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh air banjir tersebut. Setelah banjirpun, masih ada aktifitas lagi yaitu, membersihkan sisa – sia kotoran banjir dan itu tidak cukup 1 atau 2 hari loh Pak. Bapak pernah merasakan itu gak ya? Oiya, katanya waktu itu akan dibangun kanal barat dan kanal timur. Proyek itu kapan selesainya ya Pak? Itu program bagus loh. Semoga cepat selesai ya Pak.

KEMISKINAN. Akut. Mungkin itulah yang bisa saya katakana untuk hal yang satu ini. Padahal, tidak sedikit orang kaya di Jakarta (termasuk Bapak). Tapi, mengapa sepertinya yang miskin justru lebih banyak? Apakah orang yang kaya itu sudah enggan untuk menyantuni yang miskin? Menurut Bapak sesulit apa sih menanggulangi kemiskinan di Jakarta. Harusnya kita malu. Di Ibu Kota kok masih banyak sekali yang miskin ya? Untuk masalah yang satu ini tolong agak serius ya Pak. Tapi, bukan berarti untuk masalah yang lain tidak seirus loh Pak. Karena, sumber kejahatan dan kriminal itu berawal dari kemiskinan. Iiiiiih, serem.

POPULASI. Semakin hari semakin bertambah. Itulah populasi yang ada di Jakartaku tercinta. Dulu, saya pernah mendengar program KB (Keluarga Berencana), akan tetapi sekarang kok tidak pernah terngiang di telinga saya? Apakah saya yang kurang informasih? (mudah-mudahan iya). Lalu, bagaimana tuh Pak penanggulangannya? Kan tidak lucu kalau nanti tahun 2000-sekian Ibu Kota Negara Indonesia tenggelam entah kemana. Apa kata sejarah?

GREEN SPACE. Sulit sekarang mencari ladang / halaman hijau nan rimbun yang disesaki dengan pepohanan dan kicauan burung yang merdu. Anak – anak berlarian di taman dengan senyum mereka yang merona, orang – orang beristirahat dan mungkin bercerita dan bercengkrama denga senyum bahagia, dan burung – burungpun berkicau melantunkan lagu indah walaupun sulit untuk dimengerti. Ada ladang hijau, namun tidak seberapa banyak bila dibandingkan dengan polusi yang ada di Jakarta. Yang ada justru penebangan area hijau disebuah kawasan Jakarta alih – alih untuk mengurangi kemacetan yang lebih tepatnya lagi adalah untuk membangun jalur Bus Way. Kalau sekarang saja sudah sulit mencari ladang hijau, mengapa yang ada harus ditebangi Pak? Dan yang saya tahu, pohon – pohon yang akan ditebang itu lebih dari 1000 pohon. Hhmm. Kecewa berat.

Saya yakin masih banyak lagi warga – warga pecinta Jakarta yang ingin menyampaikan pesan kepada Bapak selaku gubernur kita. Namun, sebelumnya ijinkan saya menyampaikan puisi juga untuk Bapak. Semoga ini berkenan.

AKU RINDU JAKARTAKU

Wahai Bapak yang berhati nurani.

Kicau tak lagi sering terdengar seiring
Jakarta tak lagi hijau seperti dulu.
Air jernih tempatku berenang malah
menjadi tempat limbah merambah.
Udara sejuk tak lagi bisa ku hirup
seiring larutnya asap kendaraan yang
menyesaki ruang langit tebal seperti kabut.

Aku harus harus bersahabat dengan
kepadatan yang sudah hiruk-pikuk.
Kendaraan begitu padat merayap bak
bak semut yang berjalan hanya pada satu tapak.

Kemiskinan sepertinya memang sudah
menjadi menjadi sehabat yang sangat
teramat begitu akrab. Pedih, sedih, dan
perih hati karena sering menjerit kala melihat
mereka yang mengais rejeki walau hanya dengan
pakaian lusuh, karung kusut, pengait berkarat,
dan telanjang kaki menyusuri sudut – sudut kota
di bawah teriknya matahari siang hari.

Wahai Bapak yang berhati nurani.

Aku rindu akan kenangan masa laluku
yang ketika ku tebangun dari tidur,
kicauan burung yang menyambut pagiku.

Aku rindu air sungaiku yang jernih seperti
dulu, kalaku bermain menceburkan diri
bersama teman – temanku agar adik – adikku
yang hidup saat ini bisa merasa apa yang ku rasa.

Aku rindu udara sejuk yang ku hirup
kala ku berjalan pagi ditengah kota
bersama sahabat ataupun keluarga.

Tak ingin lagi hati teriris melihat mereka
yang berburu rejeki namun mengorbankan
diri kare demi menghidupi keluarga yang disayangi.

Wahai Bapakku yang berhati nurani.

Kembalikan Jakartaku seperti dulu.
Harapanku ada padamu.

Aku rindu Jakartaku.

Aku rindu Jakartaku.

Cukup sekian dari saya dan terimakasih. Walaupun mungkin Bapak tidak membacanya karena kesibukan yang sangat padat, saya harap ada orang terdekat Bapak yang sudi membaca surat ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hormat saya,

Darmawan Sukardi