Selasa, 12 April 2011

SI ZUKI DARI "RUMAH RAKYAT"

Zuki...Zuki...

Kamu itu pintar loh Zuk, tapi kok terlihat tidak seperti itu ya?
Jasmu yang halus itu sinkron dengan celanamu yang halus itu,
Warna dasimu yang eyecatching itu terlihat pas dengan jasmu,
Sepatu pantopel dengan warna kaos kaki yang sama itu
terlihat sangat selaras dengan setelan jas dan dasimu itu,
ditambah lagi dengan kelimis rambutmu dan yang terpenting lagi
kacamatamu itu loh yang membuat kamu terlihat, woow, keren!!!

Emh...emh...emh...
Zuki...Zuki...

Kamu itu kepala rumah tanggal wakil rakyat, bukan?
Kamu itu punya amanat besar loh, Zuk. Kamu sadar gak sih?
Kamu lihat gak disekeliling "rumah rakyat" itu banyak loh
bedeng - bedeng, rumah - rumah, dan sekolah - sekolah yang
sebenarnya lebih penting untuk dibangun dari pada proyek
tender untuk membangun "rumah baru" untuk tempat berkumpulnya
politikus yang mungkin kalau dipenggal suku katanya jadi dua yaitu,
POLI dan TIKUS. Kamu tahukan artinya itu apa? Ya, benar sekali. Itu artinya
POLI = BANYAK dan TIKUS = HEWAN YANG SUKA SEMBUNYI - SEMBUNYI.
Jadi, apakah kamu rela jika politikus itu kamu sediakan "rumah baru" yang bagus?
Mereka itu tinggal di tempat yang jorok saja betah loh, apalagi dikasih yang bagus.
Bisa gak mau kemana - mana. Nanti, malah tambah males kerja lagi. hehe

Zuki...Zuki...

Uang sekitar Rp 1.3 triliun itu tidak sedikit loh, Zuk. Itu fantastis.
Uang sebanyak itu hanya untuk membangun "rumah rakyat"
yang 36 lantai dan akan dihuni oleh BANYAK TIKUS.
Aduuuh...sayang sekali itu Zuk. Kamu tahu gak, Zuk.
Uang sebanyak itu bisa membangun 32.000 sekolah loh.
Kan lebih baik begitu. Dan itu kan tertera dalam UUD '45 
yang berbunyi "MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA" .
Nah, jadi lebih baik uang itu untuk membangun sekolah saja lah, Zuk.
Atau boleh juga untuk membangun infrastruktur bagi tempat - tempat
yang tertinggal.

Zuki...Zuki...

Sebaiknya jangan kamu teruskan lagi ya proyek itu dari pada nanti
banyak yang sakit hati. Toh, kinerja mereka yang tinggal di sana kan
belum bagus malah ada yang bilang kinerja mereka BURUK.
Bahaya loh Zuk kalau kamu terusin proyek "rumah rakyat" yang baru itu.
Kemungkinan besar kamu akan mendapat dampak buruk dari itu semua.
Mendingan kamu cancel saja laah. Yaa. Sampaikan sama teman - teman
kamu yang tinggal di rumah kami itu bahwa "RUMAH RAKYAT" yang baru
itu TIDAK SEHARUSNYA DIBANGUN UNTUK PARA TIKUS yang NAKAL.
Mengertilah. Karena hanya dengan pengertianlah kita akan BERSATU.

Begitu dulu ya, Zuk. ^_^

Senin, 04 April 2011

IBU (1)

Ibu...

Ketika aku berada dalam kandungan,
kau berkata bahwa aku sering kali
menendang perutmu sehingga kau
merasa sakit dan bahkan tak tertahankan.
Namun, apakah kau marah pada saat itu?
Tidak, kau berkata. Walaupun sering kali
kau menendang-nendang perutku,
tak sedikitpun ibu merasa marah kepadamu.
Kau bilang padaku untuk sabar menunggu
sampai waktu yang tepat untuk kau keluar
dari rahim ibu yang penuh kasih Tuhan itu
dan setelah itu kau akan menatap indah dunia
dengan tuntunan kasih sayangku.

Ibu...

Kau bilang bahwa pada saat aku ingin keluar
dari rahimmu, kau berjuang sangat keras;
sampai kau pertaruhkan nyawamu demi
kehadiranku di dunia ini. Kau mengerang,
menjerit dan kau tak tahu apakah kau akan
bertahan hidup ataukah sebaliknya, mati.

Eaa..eaa..eaa..
Akupun keluar dengan selamat dari ruang gelap itu.
Syukur alhamdulillah kau pun selamat antara hidup dan mati.
Kau sandingkan aku disampingmu.
Kau bilang bahwa kau sangat senang dengan kehadiranku
sebagai anggota keluarga baru dan orang-orang disekelilingpun
menyambutku dengan penuh suka cita, senyum bahagia.

Ibu...

Oh, betapa senangnya diriku bisa berbaring disampingmu saat itu.
Kau elus aku dengan cintamu. Kau kecup aku dengan penuh
kehangatan kasih sayang yang Tuhan titipkan kepadamu.
Betapa tulus kasih sayang kau berikan kepadaku.
Aku mencintaimu,,Ibu..